topbella

Kamis, 05 Agustus 2010

Ketika tamu mulia itu akan segera datang

Seperti layaknya menyambut tamu, pasti kita akan mempersiapkan segalanya agar sang tamu tidak kecewa datang ke rumah kita. Apalagi ini adalah tamu yang luar biasa...sampai-sampai Rasulullah dan para sahabat menginginkan agar sepanjang tahun itu adalah Ramadhan, karena mereka mengetahui keutamaannya. Dimana pahala ibadah sunnah dihitung pahala ibadah wajib, apatah lagi ibadah wajib??? Segala amal dilipatgandakan sampai 700 kali. Oleh karenanya Rasulullah menganjurkan untuk mempersiapkan segala hal yang akan mendukung agar ibadah kita di Bulan Ramadhan lebih optimal.

Ada 10 Langkah yang bisa kita lakukan dalam menyambut bulan suci ini agar mendapatkan barokah di dalamnya :
1. Berdoalah agar Allah swt. memberikan kesempatan kepada kita untuk bertemu dengan bulan Ramadhan dalam keadaan sehat wal afiat. Dengan keadaan sehat, kita bisa melaksanakan ibadah secara maksimal di bulan itu, baik puasa, shalat, tilawah, dan dzikir. Dari Anas bin Malik r.a. berkata, bahwa Rasulullah saw. apabila masuk bulan Rajab selalu berdo'a :
”Allahumma bariklanaa fii rajab wa sya’ban, wa balighna ramadhan.”(HR. Ahmad dan Tabrani)
2. Bersyukurlah dan puji Allah atas karunia Ramadhan yang kembali diberikan kepada kita. Al-Imam Nawawi dalam kitab Adzkar-nya berkata, ”Dianjurkan bagi setiap orang yang mendapatkan kebaikan dan diangkat dari dirinya keburukan untuk bersujud kepada Allah sebagai tanda syukur; dan memuji Allah dengan pujian yang sesuai dengan keagungannya.”
Dan di antara nikmat terbesar yang diberikan Allah kepada seorang hamba adalah ketika dia diberikan kemampuan untuk melakukan ibadah dan ketaatan. Maka, ketika Ramadhan telah tiba dan kita dalam kondisi sehat wal afiat, kita harus bersyukur dengan memuji Allah sebagai bentuk syukur.
3. Bergembiralah dengan kedatangan bulan Ramadhan. Rasulullah saw. selalu memberikan kabar gembira kepada para shahabat setiap kali datang bulan Ramadhan,
“Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah. Allah telah mewajibkan kepada kalian untuk berpuasa. Pada bulan itu Allah membuka pintu-pintu surga dan menutup pintu-pintu neraka.” (HR. Ahmad). Salafush-shalih sangat memperhatikan bulan Ramadhan. Mereka sangat gembira dengan kedatangannya. Tidak ada kegembiraan yang paling besar selain kedatangan bulan Ramadhan karena bulan itu bulan penuh kebaikan dan turunnya rahmat.
4. Rancanglah agenda kegiatan untuk mendapatkan manfaat sebesar mungkin dari bulan Ramadhan. Ramadhan sangat singkat. Karena itu, isi setiap detiknya dengan amalan yang berharga, yang bisa membersihkan diri, dan mendekatkan diri kepada Allah.
5. Bertekadlah mengisi waktu-waktu Ramadhan dengan ketaatan. Barangsiapa jujur kepada Allah, maka Allah akan membantunya dalam melaksanakan agenda-agendanya dan memudahnya melaksanakan aktifitas-aktifitas kebaikan.
“Tetapi jikalau mereka benar terhadap Allah, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka.” [Q.S. Muhamad (47): 21]
6. Pelajarilah hukum-hukum semua amalan ibadah di bulan Ramadhan. Wajib bagi setiap mukmin beribadah dengan dilandasi ilmu. Kita wajib mengetahui ilmu dan hukum berpuasa sebelum Ramadhan datang agar puasa kita benar dan diterima oleh Allah.
“Tanyakanlah kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui,” begitu kata Allah di Al-Qur’an surah Al-Anbiyaa’ ayat 7.
7. Sambut Ramadhan dengan tekad meninggalkan dosa dan kebiasaan buruk. Bertaubatlah secara benar dari segala dosa dan kesalahan. Ramadhan adalah bulan taubat.
“Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman, supaya kamu beruntung.” [Q.S. An-Nur (24): 31]
8. Siapkan jiwa dan ruhiyah kita dengan bacaan yang mendukung proses tadzkiyatun-nafs. Hadiri majelis ilmu yang membahas tentang keutamaan, hukum, dan hikmah puasa. Sehingga secara mental kita siap untuk melaksanakan ketaatan pada bulan Ramadhan.
9. Siapkan diri untuk berdakwah di bulan Ramadhan dengan:
• buat catatan kecil untuk kultum tarawih serta ba’da sholat subuh dan zhuhur.
• membagikan buku saku atau selebaran yang berisi nasihat dan keutamaan puasa.
10. Sambutlah Ramadhan dengan membuka lembaran baru yang bersih. Kepada Allah, dengan taubatan nashuha. Kepada Rasulullah saw., dengan melanjutkan risalah dakwahnya dan menjalankan sunnah-sunnahnya. Kepada orang tua, istri-anak, dan karib kerabat, dengan mempererat hubungan silaturrahim. Kepada masyarakat, dengan menjadi orang yang paling bermanfaat bagi mereka. Sebab, manusia yang paling baik adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.
Semoga Ramadhan tahun ini meningkatkan derajat kita sebagai orang yang bertaqwa...
~Marhaban Yaa Ramadhan~
Baca Selengkapnya...

Senin, 03 Mei 2010

"Aku tidak mau jadi seperti abi dan ummi...."

“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya, Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” (QS. Luqman : 13)
Luqman Hakim bukan Nabi ataupun Rasul, namun kisahnya terangkai indah dalam surat cinta-Nya. Yang akan menjadi contoh sepanjang masa bagi orangtua-orangtua dalam mendidik anak-anaknya.
Ana mungkin belum berpengalaman dalam bahasan ini, lebih hanya sekedar sebagai pengamat, penganalisa dan pengambil kesimpulan dari sedikit fenomena yang menjadi obyek pengamatan ana. Jadi kalau ada masukan, saran ataupun kritik dari sahabat-sahabat yang lebih kapabel tentang masalah ini semoga bisa menjadikan sarana silaturahim dan menambah tsaqafah.
Beberapa waktu yang lalu ana diberikan amanah untuk membina anak-anak usia SMP yang merupakan anak dari kader-kader di daerah ana tinggal. Memang akhir-akhir ini sepertinya sedang digalakkan program pembinaan anak-anak kader, yang dikhususkan untuk anak-anak dengan kondisi keluarga yang “tidak biasa”. Memang anak-anak itu tumbuh di lingkungan yang “tidak biasa”, berbeda dari keluarga-keluarga pada umumnya. Dimana mereka dididik dengan idealisme keislaman keluarga yang kuat, penanaman fikrah sejak dini, disekolahkan di sekolah-sekolah Islam unggulan. Para abi dan ummi mereka adalah aktivis-aktivis dakwah yang mempunyai komitmen luarbiasa terhadap dakwah ini.
Secara fikrah mereka berbeda juga dengan anak-anak pada umumnya, karena mereka sudah terbiasa dengan istilah-istilah “tarbiyah” yang biasa disebut-sebut oleh abi dan ummi mereka. Hal ini memerlukan penyikapan yang berbeda dengan halaqah-halaqah yang pesertanya adalah anak-anak dari kalangan ammah agar halaqah berjalan dengan menarik dan tidak membosankan. Karena ternyata tidak sedikit dari anak-anak itu yang belum mempunyai pemahaman keislaman yang baik, yah mungkin karena usia mereka yang masih usia anak-anak. Namun tarbiyah sejak dini sangat penting, apalagi untuk anak-anak yang sekolah di sekolah umum yang tidak ada kegiatan Islamnya/ ROHIS. Apalagi ternyata banyak dari orangtua dari anak-anak itu yang sibuk di luar rumah dan menjadikan anak-anak mereka kurang terperhatikan. Inilah masalahnya….
Melihat fenomena yang terjadi saat ini ketika dakwah memasuki ranah politik sehingga dibutuhkan kader-kader yang siap untuk memasuki ranah publik. Hal ini baik secara langsung maupun tidak langsung akan menyita waktu yang orangtua miliki, sehingga akan mengurangi interaksi dengan keluarga di rumah. Apalagi seorang abi yang juga mempunyai kewajiban untuk mencari ma’isyah untuk keluarganya, ditambah lagi dengan agenda-agenda dakwah yang harus dijalankan sehingga semakin sempit ruang “interaksi” itu.
Sampai ada seorang anak kader ketika ditanya, apakah mereka mau ketika sudah besar jadi seperti abi dan ummi? Dengan tegas mereka bilang, “Tidakk!!! Aku tidak mau jadi kayak abi dan ummi…... Karena abi dan ummi tidak pernah ada di rumah dan kurang memperhatikan kami….” Astaghfirullah…. Apanya yang salah???
Namun dibalik itu semua, tak sedikit pula anak-anak kader yang mampu menyeimbangi kapasitas yang dimiliki abi dan umminya. Meski dengan kesibukan abi dan ummi mereka di luar rumah, namun mereka mampu mengatur diri mereka sendiri dan bahkan mampu mencuatkan potensi yang mereka miliki. Hal itu tidak akan terjadi secara instan, namun akan memerlukan waktu dan kesungguhan dari para orangtua untuk memberikan perhatian yang lebih tidak hanya semata-mata doktrin namun yang lebih penting adalah memberikan pemahaman, serta lingkungan yang kondusif.
Di sini kapasitas ana hanya sebagai pembina yang akan berusaha membantu para orangtua kader untuk mengawasi dan menjaga agar pemahaman anak tersebut tidak keluar dari rel yang sudah ditentukan. Namun semuanya kembali kepada orangtua masing-masing, bukankah pendidikan anak-anak itu sebagian besar mereka dapatkan ketika di dalam rumah??? Ya….ini semua adalah untukmu, wahai para penerus dakwah…
Semoga ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa orang-orang yang paling berhak atas dakwah kita adalah keluarga kita sendiri, karena mereka adalah aset yang akan membantu kita dalam tahapan dakwah selanjutnya. Wallahua’lam bish showab…
Baca Selengkapnya...

Jumat, 12 Maret 2010

Membersamai orang shalih

Beberapa pekan ini memang sedang banyak-banyaknya saudara, teman dan kerabat yang menggenapkan separuh dien-nya...
Barakallahufiikum...
Tulisan ini untuk kaliyan yang akan, sedang, maupun yang masih dalam tahap mempersiapkan ke arah sana…^_^


Memang harapan dan impian setiap pemuda atau pemudi yang memasuki usia pernikahan adalah memperoleh suami shalih atau istri shalihah, karena ia termasuk perkara mendasar dalam bangunan dan tatanan rumah tangga yang akan diarungi oleh suami istri.
"Seorang wanita dinikahi karena empat perkara: karena hartanya, kedudukannya, kecantikannya dan agamanya, pilihlah pemilik agama niscaya kamu beruntung”.
(HR. Al-Bukhari dari Abu Hurairah).
Menikah bukan untuk sesaat dua saat akan tetapi untuk selamanya, dunia akhirat, InsyaAllah…
Walaupun dalam perjalanan pernikahan tidak jarang terjadi rintangan dan sandungan, naik turun, senang susah, sedih gembira, semuanya terjadi, hanya keshalihan yang bisa membimbing suami dan istri untuk menyikapi semua itu dengan bijak yang pada akhirnya membawa kepada kebaikan bagi mereka berdua.

Memang, Allahpun memerintahkan kepada kita untuk selalu bersama dengan orang yang shalih. Membersamai orang shalih, ya....membersamai mungkin adalah kata yang tepat untuk menggambarkan hubungan ini. Sebab kebersamaan yang membersamai akan menunjukkan keaktifan dari kedua belah pihak untuk saling menjaga agar tetap istiqomah dalam keshalihan tersebut.

Adalah benar, jika teman kita baik maka kita akan ikut menjadi baik, begitupun sebaliknya. Seperti halnya kita dekat dengan penjual minyak wangi, maka kitapun akan ikut menjadi wangi. Namun terkadang yang kita lakukan adalah ingin bersama dengan orang shalih agar kita ikut menjadi shalih dan akhirnya hanya meletakkan harapan atau menggantungkan kebaikan diri padanya. Padahal ini adalah kekeliruan dan hanya akan membawa pada kekecewaan.
Ada seorang sahabat yang berkata, "aku ingin menikah dengannya.. hanya dengannya. Agar ia menjadi imamku, agar ia membimbingku, agar ia membangunkanku shalat malam, agar ia membersamaiku dalam santap buka yang sederhana, agar ia bisa mengajariku berbagai hal, agar ia......, agar ia…..”
Terlalu banyak harapan yang diinginkan kepada sosok yang diharapkan menjadi pendampingnya itu. Dan itulah yang menjadi menjadi masalah…..
Dan ketika sosok lelaki penyabar yang dia kenal juga bisa marah, bahkan sering bahwa sosok lelaki shalih yang dia damba kadang sulit dibangunkan untuk shalat shubuh berjama’ah bahwa lelaki yang menghafal juz-juz Al Quran itu tak pernah menyempatkan diri mengajari dirinya mengaji dan bahkan sosok lelaki yang aktif dalam da'wah itu ternyata adalah pribadi yang tidak peduli kepada keluarganya sendiri....
 Memang ketika kita semakin mengenali manusia yang makin akrab bagi kita, pastilah aib-aibnya akan semakin terbuka. Dan pasti membuat kita mengakrabi kesempurnaanNya. Karena kita pun harus sadar, bahwa di balik kelebihan-kelebihan yang dimiliki orang shalih tersebut, dia juga adalah manusia biasa yang banyak akan kekurangan. Maka gantungkanlah harapan dan segala niat untuk menjadi baik hanya padaNya.

Wallahua'lam bishshowab....
Baca Selengkapnya...

Rabu, 10 Maret 2010

Ketika azzam itu meluntur

Suatu ketika, dalam pertemuan halaqah seorang mad'u datang menemui murobbiyahnya di saat teman-teman yang lainnya belum datang. Mad'u ini sebenarnya adalah seorang yang mempunyai semangat dan selalu bisa menularkan semangatnya kepada teman-teman se-halaqahnya. Namun entah mengapa akhir-akhir ini sang mad'u jarang menghadiri liqo'at tanpa alasan dan kalaupun hadir selalu terlambat dengan udzur yang tidak jelas Sang mad'u berkata " Ana merasa semangat, saat aktif dalam da’wah. Tapi belakangan rasanya semakin hambar. Ukhuwah makin kering. Bahkan ana melihat ternyata ikhwah banyak pula yang aneh-aneh…” Sang murobbiyah hanya terdiam, mencoba terus menggali semua kecamuk dalam diri mad’unya. “Lalu, apa yang ingin anti lakukan setelah merasakan semua itu “? sahut sang murobbiyah setelah sesaat termenung. “Ana ingin berhenti saja, keluar dari tarbiyah ini. Ana kecewa dengan perilaku beberapa ikhwah yang justru tak Islami. Juga dengan organisasi da’wah yang ana geluti ; kaku dan sering mematikan potensi anggota-anggotanya. Bila begini terus, ana lebih baik sendiri saja..” jawab sang mad'u. Sang murobbiyah termenung kembali. Tak tampak raut terkejut dari roman wajahnya. Sorot matanya tetap terlihat tenang, seakan jawaban itu memang sudah diketahuinya sejak awal. “Ukhty, bila suatu kali anti naik sebuah kapal mengarungi lautan luas, kapal itu ternyata sudah amat bobrok. Layarnya banyak berlubang, kayunya banyak yang keropos bahkan kabinnya bau kotoran manusia. Lalu, apa yang anti lakukan untuk tetap sampai pada tujuan ?” Tanya sang murobbiyah dengan kiasan bermakna dalam. Sang mad’u terdiam berpikir. Tak kuasa hatinya mendapat umpan balik sedemikian tajam melalui kiasan yang amat tepat.“Apakah anti memilih untuk terjun ke laut dan berenang sampai tujuan “? sang murobbiyah mencoba memberi opsi. “Bila anti terjun ke laut, sesaat anti akan merasa senang. Bebas dari bau kotoran manusia, merasakan kesegaran air laut, atau bebas bermain dengan lumba-lumba. Tapi itu hanya sesaat. Berapa kekuatan anti untuk berenang sampai tujuan? Bagaimana bila ikan hiu datang ? Darimana anti mendapat makan dan minum ? Bila malam datang, bagaimana anti mengatasi hawa dingin ?" serentetan pertanyaan dihamparkan di hadapan sang akhwat tersebut. Tak ayal, sang mad'u menangis tersedu. Tak kuasa rasa hatinya menahan kegundahan sedemikian. Kekecewaannya kadang memuncak, namun sang murobbiyah yang dihormatinya justru tak memberi jalan keluar yang sesuai dengan keinginannya. “Ukhty, apakah anti masih merasa bahwa jalan da’wah adalah jalan yang paling utama menuju ridho Allah SWT ?” ( Pertanyaan menohok ini menghujam jiwa sang ikhwah). Ia hanya mengangguk. "Bagaimana bila ternyata mobil yang anti kendarai dalam menempuh jalan itu ternyata mogok ? anti akan berjalan kaki meninggalkan mobil itu tergeletak di jalan, atau mencoba memperbaikinya ?" Tanya sang murobbiyah lagi. Sang ikhwah tetap terdiam dalam sesenggukkan tangis perlahannya. Tiba-tiba ia mengangkat tangannya. "Cukup, cukup. Ana sadar. Maafkan ana, Insya Allah ana akan tetap istiqomah. Ana berda’wah bukan untuk mendapat medali kehormatan. Atau agar setiap kata-kata ana diperhatikan. Biarlah yang lain dengan urusan pribadi masing-masing. Biarlah ana tetap berjalan dalam da’wah. Dan hanya jalan ini saja yang akan membahagiakan ana kelak dengan janji-janji- Nya. Biarlah segala kepedihan yang ana rasakan jadi pelebur dosa-dosa ana ..” sang mad’u berazzam di hadapan sang murobbiyah yang semakin dihormatinya. Sang murobbiyah tersenyum. “Ukhty, jama’ah ini adalah jama’ah manusia. Mereka adalah kumpulan insan yang punya banyak kelemahan. Tapi dibalik kelemahan itu, masih amat banyak kebaikan yang mereka miliki. Mereka adalah pribadi-pribadi yang menyambut seruan untuk berda’wah. Dengan begitu, mereka sedang berproses menjadi manusia terbaik pilihan..” papar sang murobbiyah. “ Bila ada satu-dua kelemahan dan kesalahan mereka, janganlah hal itu mendominasi perasaan anti Sebagaimana Allah ta’ala menghapus dosa manusia dengan amal baik mereka, hapuslah kesalahan mereka di mata anti dengan kebaikan-kebaikan mereka terhadap da’wah selama ini. Karena di mata Allah, belum tentu anti lebih baik dari mereka. Futur, mundur, kecewa atau bahkan berpaling menjadi lawan bukanlah jalan yang masuk akal. Apabila setiap ketidaksepakatan selalu disikapi dengan jalan itu; maka kapankah da’wah ini dapat berjalan baik ?" sambungnya panjang lebar. Sang mad’u termenung merenungi setiap kalimat murobbiyahnya. Azzamnya memang kembali menguat. Namun ada satu hal tetap bergelayut di hatinya. “Tapi, bagaimana ana bisa memperbaiki organisasi da’wah dengan kapasitas ana yang lemah ini ?” sebuah pertanyaan konstruktif akhirnya muncul juga. “Siapa bilang kapasitas anti lemah ? Apakah Allah mewahyukan kepada anti? Semua manusia punya kapasitas yang berbeda. Namun tak ada yang bisa menilai bahwa yang satu lebih baik dari yang lain !” sahut sang murobbiyah. “Bekerjalah dengan ikhlas. Berilah taushiyah dalam kebenaran, kesabaran, dan kasih sayang pada semua ikhwah yang terlibat dalam organisasi itu. Karena peringatan selalu berguna bagi orang yang beriman. Bila ada sebuah isu atau gossip, tutuplah telinga antum dan bertaubatlah. Singkirkan segala ghibah antum terhadap saudara antum sendiri. Dengan itulah, Bilal yang mantan budak hina menemui kemuliaannya…” Malam itu sang mad’u menyadari kesalahannya. Ia bertekad untuk tetap berputar bersama jama’ah dalam mengarungi jalan da’wah. Kembalikan semangat itu saudaraku, jangan biarkan asa itu hilang, dihempas gersangnya debu ‘wahn’ yang begitu kencang menerpa. Biarkan amal-amal ini semua menjadi saksi, sampai kita diberi satu dari dua kebaikan oleh ALLAH SWT : kemenangan atau mati syahid. Wallahua'lam bishshowab.... (Ditulis ulang dari milis JPRMI)


Baca Selengkapnya...

Kamis, 07 Januari 2010

Nasehat yang Bisu

Tadi pagi kampus heboh dengan berita duka cita, kepala TU di Fakultas kami dikabarkan meninggal dunia. Semasa hidup beliau dikenal sebagai orang yang supel, ramah, senang bergaul dengan kalangan d0sen, para petinggi kampus dan bahkan mahasiswa... Beliau sering berinteraksi dengan mahasiswa terutama untuk , diskusi atau hanya sekedar bercanda untuk menghidupkan suasana. Yah, beliau memang masih cukup muda usianya sekitar 40 tahunan... Dan beliau tergolong orang yang jarang sakit, karena tampaknya beliau memang gemar berolah raga sehingga k0ndisi beliau selalu fit. Namun tadi pagi, kami mendengar berita duka ini... Kami mendapatkan informasi dari keluarganya, bahwa tadi pagi setelah sholat subuh beliau izin tidur sebentar karena kecapekan semalam. Namun ketika matahari mulai menampakkan sinarnya, ternyata beliau telah berpulang dan tidak bangun lagi untuk selamanya.. Seluruh masyarakat kampus berduka dan berb0ndong-bondong untuk takziyah. Jadi semua aktivitas perkuliahan dan praktikum dihentikan sementara karena jenazah akan disholatkan di kampus. Begitu banyak orang yang ikut takziyah dan mendo'akan beliau agar segala amal dan kebaikannya diterima di sisi-Nya. Begitulah.... Kematian pasti akan dialami oleh setiap orang. Setiap kita tidak ada yang mengetahui kapan ajal akan menjemput. Ada diantara kita yang sedang duduk tidak bisa bangun lagi, ada yang sedang bepergian tidak pulang lagi ke rumahnya dan ada yang sedang tidur berlanjut pada tidur untuk selamanya. Kematian yang sudah pasti itu akan menjemput kita dengan waktu yang setiap kita tidak mengetahuinya, bisa jadi sekarang atau hari ini atau minggu ini atau bulan ini, yang jelas pasti datang. Keyakinan ini akan menyadarkan kita untuk segera mempersiapkan diri menghadapinya dengan banyak bertaubat kepada Allah SWT, segera kembali kepada-Nya dan segera meningkatkan keimanan dan ketaqwaan. Segera sadar dan bangkit dari tidur panjang kelalaiannya selama ini. Perbanyaklah mengingat sesuatu yang melenyapkan semua kelezatan, yaitu kematian!” (HR. Tirmidzi) Kita juga tak pernah tahu, apakah nanti setelah kita meninggalkan dunia ini banyak dari teman-teman, sahabat dan kerabat yang akan mengantarkan kepulangan kita, mensholatkan kita dan mendo'akan yang terbaik untuk kita. Karena hanya itulah yang bisa kita harapkan, do'a.... karena ialah amalan yang tidak akan terputus meskipun jasad kita sudah masuk ke liang lahat. Selain amal jariyah dan ilmu yang bermanfaat tentunya. Jika anak Adam meninggal, maka amalnya terputus kecuali dari tiga perkara, sedekah jariyah (wakaf), ilmu yang bermanfaat, dan anak shaleh yang berdoa kepadanya.” (HR Muslim) Banyak orang tertawa tanpa (mau) menyadari sang maut sedang mengintainya. Banyak orang cepat datang ke shaf shalat layaknya orang yang amat merindukan kekasih. Sayang ternyata ia datang tergesa-gesa hanya agar dapat segera pergi. Seperti penagih hutang yang kejam ia perlakukan tuhannya. Dari jahil engkau disuruh berilmu dan tak ada izin untuk berhenti hanya pada ilmu. Engkau dituntut beramal dengan ilmu yang Allah berikan. Tanpa itu alangkah besar kemurkaan Allah atasmu (Kematian hati Ust.Rahmat Abdullah) Itulah fen0mena yang terjadi sekarang, apakah kita termasuk golongan yang disebutkan oleh Syaikhuttarbiyah di atas? Kematian jasad memang pasti akan terjadi, namun alangkah ruginya jika kematian hati menimpa kita. Mati sebelum mati.. Na'udzubillah.. Semoga kita terhindar dari kematian hati dan termasuk hamba yang bersiap sedia, mempersiapkan bekal untuk hari yang telah dijanjikan.
Amin....
Baca Selengkapnya...

Jumat, 01 Januari 2010

Sebuah momentum di awal tahun

Gelegar petasan dan percikan kembang api begitu semarak menghiasi malam ini, tidak seperti malam-malam biasanya...

Aku pulang dari tempat aktivitas dengan melewati jalan-jalan yang biasanya lengang karena memang sudah larut malam...
Namun malam ini jauh berbeda...

Memang bukan malam biasa bagi sebagian orang, Ya...ini adalah malam pergantian tahun.
Orang-orang rela keluar larut malam, hanya sekedar ingin melewati malam pergantian tahun dengan pesta kembang api, makan-makan bareng atau mungkin hanya sekedar melihat-lihat di pusat-pusat keramaian. Bahkan tak jarang anak-anak kecilpun tak luput dari euphoria malam pergantian tahun ini.

Ada yang menghabiskan malam dengan berkumpul dengan keluarga, mempererat silaturahim.
Namum ada juga sebagian orang yang duduk dalam majelis-majelis muhasabah di masjid-masjid dan mabit...

Begitulah fen0mena yang terjadi di malam pergantian tahun ini...


Namun bagiku, malam pergantian tahun memang menjadi saat istimewa sebagai sarana muhasabah...
Karena saat itu pulalah jatah usiaku akan berkurang...

Apakah pencapaianku selama ini sudah sesuai dengan rencana atau target?
Meski takkan bisa lepas dari ketentuanNYA...
Namun aku ingin setiap detik waktu yang Allah berikan kepadaku ini, dapat kugunakan untuk menciptakan m0mentum kebaikan...
Mungkin malam ini adalah malam yang sama dengan beberapa tahun yang lalu ketika aku mulai mengenal dunia ini.
Meskipun namanya sama,malam tahun baru...
Namun ternyata malam ini adalah malam ketika aku telah mengambil kesempatan-kesempatan yang telah diberikan untuk menciptakan m0mentum...
Momentum terbaik yang telah membawaku pada k0ndisi saat ini...
Sangat berbeda dengan beberapa tahun yang lalu...

Kuharap aku bukanlah orang yang menyia2kan waktu&kesempatan yang telah diberi selama ini.
Seperti firman Allah surat Al-'Ashr:1-3, "Demi masa.Sesungguhnya manusia itu benar2 dlm kerugian.Kecuali orang2 yg beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati spy menetapi kesabaran."

Malam ini kumaknai sebagai t0nggak awal untuk memperbaiki diri, bukan hanya untuk malam ini saja. Namun kuharapkan seluruh kehidupanku ke depan dapat kujadikan m0mentum untuk menjadi lebih baik dan lebih baik lagi...
Hari ini adalah saat yang sesungguhnya, saat beramal dan menabung amal shalih.
Waktu kemarin tidak mungkin datang lagi. Yg lalu pasti sudah lewat dan tidak akan pernah kembali lagi, selama-lamanya.
Sedang esok? Masih sangat gelap dan tidak akan pernah bisa menduga.

Terakhir, kututup dengan sabda Rasulullah SAW "Tidak akan melangkah kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat hingga ditanya 4 perkara. Usianya,untuk apa dia habiskan. Masa mudanya,bagaimana dia habiskan. Hartanya,darimana dia dapatkan dan pada jalan apa dia keluarkan. Serta ilmunya,apa yg telah ia perbuat dengannya."
(HR. Al-Bazzar dan Thabrani)

Astaghfirullahal'adzim, sm0ga Allah mengampuni kelalaianku selama ini...

Salam semangat, di tahun yang baru !!!

awal tahun 2010,pukul 00:50
(di saat usiaku berkurang...)
Baca Selengkapnya...

Refleksi Hijrah

Mendengar kata itu, mungkin bagi sebagian kita sudah tak asing lagi. Hijrah adalah jalan menuju taghyir (perubahan), nasr (kemenangan), izzah (kemuliaan), dan siyadah (kekuasaan) Nabi Muhammad SAW bersama para sahabatnya telah melakukan hijrah dari kota Makkah ke kota Madinah dalam rangka melindungi akidah dari ancaman kekufuran menuju perubahan masyarakat sekaligus mencapai kemenangan menegakkan ajaran Islam. Namun ternyata di dalam hijrah ini sarat dengan makna. Bahkan menurut para Salafussalih bahwa salah satu mukjizat dakwah atau harakah islamiyah yang dilakukan oleh Rasulullah adalah hijrah. Lantas mengapa hijrah??? bukankah banyak episode hidup Rasulullah yang lain terekam dengan indahnya dalam Shiroh Nabawiy? Ternyata hijrah membawa perubahan besar terhadap dakwah yang dilakukan oleh Rasulullah. Dimana yang sebelumnya hijrah dilakukan secara sembunyi-sembunyi, akhirnya memasuki fase dakwah yang lebih terbuka sehingga memberikan peluang-peluang yang luar biasa terhadap dakwah.
Peluang tersebut muncul karena ada strategi yang dilakukan oleh Rasulullah yaitu dengan menyatukan dua negara yang berbeda, yaitu Makkah dan Madinah dengan mempersaudarakan antara Kaum Muhajirin dan Kaum Anshar. Dimana pada saat itu Kaun Muhajirin sedang mengalami masa-masa sulit karena sedang diboikot oleh kafir Quraiys.
Dalam surat An-Nisa' Allah telah berfirman,
Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya: "Dalam keadaan bagaimana kamu ini? ". Mereka menjawab:" Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah) ". Para malaikat berkata:" Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu? ". Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali. (QS. an-Nisa' (4) : 97)
Kecuali mereka yang tertindas baik laki-laki atau wanita ataupun anak-anak yang tidak mampu berdaya upaya dan tidak mengetahui jalan (untuk hijrah). (QS. an-Nisa' (4) : 98)
Dalam hijrah yang dilakukan oleh Rasulullah SAW juga memberikan evaluasi tarbiyah/takwim tarbawi bagi para sahabat. Dimana dengan perintah hijrah ini dapat diketahui keberhasilan tarbiyah Rasulullah yang dilakukan selama 10 tahun di Makkah. Ada sahabat Rasulullah yang baru saja hijrah ke Makkah, namun karena ada perintah hijrah ke Madinah, lalu tanpa fikir panjang langsung mengikuti Rasulullah hijrah. Ada juga Abu Dzamrah yang sudah sangat tua renta, karena takutnya dengan ancaman dari Allah dalam surat An-Nisa' di atas akhirnya memaksakan diri untuk ikut hijrah. Dan pada akhirnya beliau wafat dalam perjalanan.
Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dimaksud), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. an-Nisa' (4) : 100)
Dan begitu banyak sahabat-sahabat Nabi yang kisahnya bertaburan dalam Shiroh seperti Umar bin Khattab yang hijrah secara terang-terangan.
Namun dibalik itu semua pasti ada orang-orang yang tidak ikut hijrah, mereka mundur sebelum bertempur. Dan mereka itulah orang-orang munafik.
Dengan hijrah inilah tersaring kualitas dari sahabat Rasulullah SAW. Hanya orang-orang yang istiqomahlah yang senantiasa ikut menyertai Rasulullah untuk hijrah ke Madinah.

"Berguguranlah orang-orang yang akan gugur, dan istiqomahlah orang-orang yang istiqomah " 

Dalam konteks hijrah, kita ambil pelajaran yang dapat kita kaitkan dengan kondisi dakwah saat ini.
Tarbiyah adalah suatu keniscayaan (Hatmiyatul Tarbiyah)
         Seperti yang telah kita ketahui, bahwa tarbiyah adalah suatu methode yang meliputi dua interaksi, langsung dengan perkataan dan tidak langsung dengan keteladanan. Dengan tarbiyah inilah Rasulullah mendidik para sahabat agar nilai-nilai keislaman kuat tertanam dalam hati. Namun perjuangan hijrah memang sangatlah berat, sehingga niscaya dapat dilakukan oleh para sahabat tanpa mengikuti proses tarbiyah selama 10 tahun di Makkah.
Kaum Anshar rela memberikan segala-galanya kepada saudaranya kaum Muhajirin karena proses tarbiyah yang dilakukan oleh sahabat Rasulullah, seorang pemuda yang brillian Mush'ab bin Umair selama 2 tahun.
Sebut saja salah satu sahabat Rasulullah, Thariq bin Ziyad ketika akan menakhlukkan Spanyol membawa ribuan pasukan kaum muslimin yang menggunakan kapal untuk menyeberang lautan. Namun ketika sudah sampai di daratan, Thariq bin Ziyad menyuruh pasukannya untuk membakar kapal yang tadi dipakai untuk menyeberangi lautan. Sehingga tidak ada pilihan lain bagi pasukannya untuk maju menyerang ke benteng pertahanan musuh. Hanya ada pilihan saat itu, yaitu menang atau syahid. Semua itu tidak terlepas dari tarbiyah yang dilakukan oleh Rasulullah selama 5 tahun.
 
Hasan al-Banna says:
" Tidak akan sukses dakwah ini kecuali memakai sistem yang telah dipakai oleh Rasulullah SAW "
Tarbiyah memang bukan segala-galanya, namun segalanya bermula dari tarbiyah...
Selain itu, harus ada kader yang rela berkorban dalam dakwah. dan melalui tarbiyah pulalah yang akan memproduksi kader-kader yang rela berkorban.
Dalam shiroh Ibnu Hisyam, Abu Bakar adalah salah seorang sahabat yang senantiasa dekat dengan Rasulullah SAW. Beliau selalu bertanya kepada Rasulullah SAW kapankah saatnya hijrah akan dilakukan. Dan Rasulullah berkata, "Jangan tergesa-gesa". Ketika sampai saatnya untuk hijrah, Abu Bakar menitikkan air mata karena haru yang menyelimuti kalbu. Karena sebentar lagi dia akan menemani Kekasih Allah untuk melakukan hijrah.
Pada saat akan berangkat hijrah, Abu Bakar ternyata sudah menyiapkan 2 unta yang lengkap dengan perbekalan selama perjalanan. Sedemikian besar pengorbanan dari Abu Bakar terhadap dakwah Rasulullah.
Kemudian Abu Bakar menyuruh orang Majusi sebagai penunjuk jalan ke Madinah karena orang tersebut memang sangat faham tentang kondisi jalan agar ketika Rasulullah SAW dan Abu Bakar melaukan perjalanan ke madinah, jejaknya tidak mudah diikuti oleh Kafir Quraiys.
Ini adalah dasar yang membenarkan bahwa dalam dakwah ini, kita boleh berkoalisi dengan orang yang bukan kelompok kita asalkan sesuai dengan visi dan misi kita.

Tak cuma Abu Bakar, anak-anak dari Abu Bakar juga memegang peranan penting dalam proses hijrah. Sebut saja, Abdullah bin Abu Bakar yang betugas untuk mengintai Kafir Quraiys di Makkah. Asma binti Abu Bakar yang selalu mensupplay segala keperluan Rasullullah selama proses hijrah.
Setiap kader ada perannya masing-masing dalam amal jama'i
Selama perjalanan hijrah, Abu Bakar berjalan di depan dan kadang di belakang Rasulullah SAW. Dengan maksud supaya Abu Bakar bisa melindungi Rasulullah SAW ketika ada bahaya yang menghadang.
Hal ini dilakukan Abu bakar karena kecintaannya kepada Rasulullah SAW.
Subhanallah, pribadi-pribadi yang luar biasa seperti ini takkan lahir begitu saja. Namun ini adalah hasil tarbiyah Rasulullah SAW.
Lantas, dimanakah kita sekarang????
Selanjutnya ada kisah Ali bin Abi Thalib yang ketika itu masih sangat kecil, namun rela menggantikan tempat tidur Rasulullah SAW pada malam saat rasulullah SAW akan hijrah. hal ini disebabkan karena ketsiqohan kepada rasulullah SAW.
Ketsiqohan/ kepercayaan kepada qiyadah/pimpinan adalah syarat mutlak bagi kelangsungan dakwah ini.
Sedemikian besar peran tarbiyah dalam membentuk pribadi-pribadi luar biasa dalam dakwah ini. Lantas, apakah masih ada keraguan untuk melalui jalan ini???
Jalan ini, jalan panjang.... Penuh aral nan melintang.... Namun jua kulalui... Tuk illahi....  Pada akhirnya, dalam momentum hijriah ini marilah kita menyelami kembali samudera ilmu Allah yang takkan kering ini melalui tarbiyah. Marilah kembali kepada pangkuan tarbiyah. Karena dari sinilah dakwah ini bermula *Selamat tahun Baru Hijriah 1431 H*
Baca Selengkapnya...

Kamis, 31 Desember 2009

Keajaiban Lebah

Dan Rabbmu mewahyukan kepada lebah: Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia. (QS. An-Nahl, 16:68) Lebah madu membuat tempat penyimpanan madu dengan bentuk heksagonal. Sebuah bentuk penyimpanan yang paling efektif dibandingkan dengan bentuk geometris lain. Lebah menggunakan bentuk yang memungkinkan mereka menyimpan madu dalam jumlah maksimal dengan menggunakan material yang paling sedikit. Para ahli matematika merasa kagum ketika mengetahui perhitungan lebah yang sangat cermat. Aspek lain yang mengagumkan adalah cara komunikasi antar lebah yang sulit untuk dipercaya. Setelah menemukan sumber makanan, lebah pemadu yang bertugas mencari bunga untuk pembuatan madu terbang lurus ke sarangnya. Ia memberitahukan kepada lebah-lebah yang lain arah sudut dan jarak sumber makanan dari sarang dengan sebuah tarian khusus. Setelah memperhatikan dengan seksama isyarat gerak dalam tarian tersebut, akhirnya lebah-lebah yang lainnya mengetahui posisi sumber makanan tersebut dan mampu menemukannya tanpa kesulitan. Lebah menggunakan cara yang sangat menarik ketika membangun sarang. Mereka memulai membangun sel-sel tempat penyimpanan madu dari sudut-sudut yang berbeda, seterusnya hingga pada akhirnya mereka bertemu di tengah. Setelah pekerjaan usai, tidak nampak adanya ketidakserasian ataupun tambal sulam pada sel-sel tersebut. Manusia tak mampu membuat perancangan yang sempurna ini tanpa perhitungan geometris yang rumit; akan tetapi lebah melakukannya dengan sangat mudah. Fenomena ini membuktikan bahwa lebah diberi petunjuk melalui “ilham” dari Allah swt sebagaimana firman Allah dalam surat An-Nahl ayat 68 di atas. Sejak jutaan tahun yang lalu lebah telah menghasilkan madu sepuluh kali lebih banyak dari yang mereka butuhkan. Satu-satunya alasan mengapa binatang yang melakukan segala perhitungan secara terinci ini memproduksi madu secara berlebihan adalah agar manusia dapat memperoleh manfaat dari madu yang mengandung “obat bagi manusia” tersebut. Allah menyatakan tugas lebah ini dalam Al-Qur'an: Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, didalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Rabb) bagi orang-orang yang memikirkan. (QS. An-Nahl, 16: 69) Tahukah anda tentang manfaat madu sebagai salah satu sumber makanan yang Allah sediakan untuk manusia melalui serangga yang mungil ini? Madu tersusun atas beberapa molekul gula seperti glukosa dan fruktosa serta sejumlah mineral seperti magnesium, kalium, potasium, sodium, klorin, sulfur, besi dan fosfat. Madu juga mengandung vitamin B1, B2, C, B6 dan B3 yang komposisinya berubah-ubah sesuai dengan kualitas madu bunga dan serbuk sari yang dikonsumsi lebah. Di samping itu di dalam madu terdapat pula tembaga, yodium dan seng dalam jumlah yang kecil, juga beberapa jenis hormon. Sebagaimana firman Allah, madu adalah “obat yang menyembuhkan bagi manusia”. Fakta ilmiah ini telah dibenarkan oleh para ilmuwan yang bertemu pada Konferensi Apikultur Sedunia (World Apiculture Conference) yang diselenggarakan pada tanggal 20-26 September 1993 di Cina. Dalam konferensi tersebut didiskusikan pengobatan dengan menggunakan ramuan yang berasal dari madu. Para ilmuwan Amerika mengatakan bahwa madu, royal jelly, serbuk sari dan propolis (getah lebah) dapat mengobati berbagai penyakit. Seorang dokter asal Rumania mengatakan bahwa ia mencoba menggunakan madu untuk mengobati pasien katarak, dan 2002 dari 2094 pasiennya sembuh sama sekali. Para dokter asal Polandia juga mengatakan dalam konferensi tersebut bahwa getah lebah (bee resin) dapat membantu menyembuhkan banyak penyakit seperti bawasir, penyakit kulit, penyakit ginekologis dan berbagai penyakit lainnya. www.harunyahya.com Baca Selengkapnya...

Selasa, 29 Desember 2009

Syukur 21

"Wahai tuhan, ku tak layak ke syurgaMu... Namun tak pula aku sanggup ke nerakaMu..." nasyid Raihan yang berjudul i'tiraf, yg tenar beberapa tahun yang lalu itu mengiringi perjalanan kami ke Bogor. Hari ini memang ada agenda rihlah keluarga yang diadakan oleh organisasi hizb tingkat kelurahan dalam rangka mempererat ukhuwah diantara para kader beserta keluarganya. Ada 2 bus besar yang kami pakai untuk menuju ke tempat pariwisata yang akan kami tuju...

Sudah berkali-kali mendengar nasyid ini, namun entah mengapa perasaan haru selalu hadir menyeruak...
Tetes-tetes bening mulai membayang di pelupuk mata...
Fikirku melayang ke beberapa tahun silam, ketika aku mulai mengenal Islam secara futuh.
Lewat nasyid ini pula, yang menjadi soundtrack film "Syukur 21" aku mulai mengenal kajian-kajian keislaman yang diadakan organisasi keislaman di sekolahku.
Pada awalnya memang hanya tertarik karena ada pemutaran film "Syukur 21" yang kata teman-temanku yang sudah biasa mengikuti acara kajian keislaman atau yang di kalangan mereka disebut aktivis Rohis, filmnya bagus...
Film produksi Malaysia yang tidak kalah dengan film-film buatan barat yang mengandalkan teknologi canggih.
Dimana tim nasyid Raihan dan Yasin "Brother" juga ikut memerankan di film ini.
Akhirnya lewat ajakan dari teman itulah aku mulai kenal dengan saudara-saudara seiman, seakidah, sefikroh, yang Subhanallah...sumber inspirasi...
Saudara yang tak sekadar teman di waktu suka dan duka, namun juga sahabat untuk saling mengingatkan dalam kebajikan...

Aku bersyukur, sampai saat ini aku masih berada di tengah-tengah k0munitas yang kuyakini bisa lebih mendekatkan diri ini kepada Allah...
Komunitas yang bisa memacu diri ini untuk lebih memaksimalkan p0tensi diri...
Komunitas yang akan membentuk keluarga-keluarga muslim, sebagai pencetak generasi penerus perjuangan dakwah...
Komunitas yang selalu menjadi garda terdepan untuk melayani masyarakat...
Komunitas yang ingin mewujudkan negeri ini menjadi negeri yang berkeadilan&sejahtera...

Do'akan kami agar senantiasa istiq0mah...

"Ini langkahku, yang kan ku ayuh...
Walaupun payah, tak akan jera...
Ini langkahku,kan trus melaju...
Setegar karang, bangkitkan jihadku..."

nasyid dari Soutul Harokah yang berjudul ini langkahku, mengakhiri perjalanan ini sampai ke tempat tujuan.

Allahu Akbar !!!

(Di sepanjang perjalanan menuju Bogor dalam rangka rihlah Dpra PKS Malakasari, 26 Desember 2009)
Baca Selengkapnya...

Selasa, 22 Desember 2009

Surat dari Ibu....

Assalamu’alaikum,

Segala puji Ibu panjatkan kehadirat Allah ta’ala yang telah memudahkan Ibu untuk beribadah kepada-Nya. Shalawat serta salam Ibu sampaikan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarga dan para sahabatnya. Amin…

Wahai anakku,

Surat ini datang dari Ibumu yang selalu dirundung sengsara… Setelah berpikir panjang Ibu mencoba untuk menulis dan menggoreskan pena, sekalipun keraguan dan rasa malu menyelimuti diri. Setiap kali menulis, setiap kali itu pula gores tulisan terhalang oleh tangis, dan setiap kali menitikkan air mata setiap itu pula hati terluka…

Wahai anakku!

Sepanjang masa yang telah engkau lewati, kulihat engkau telah menjadi wanita dewasa, wanita yang lembut dan cerdas! Karenanya engkau pantas membaca tulisan ini, sekalipun nantinya engkau remas kertas ini lalu engkau merobeknya, sebagaimana sebelumnya engkau telah remas hati dan telah engkau robek pula perasaanku.

Wahai anakku… 24 tahun telah berlalu, dan tahun-tahun itu merupakan tahun kebahagiaan dalam kehidupanku. Suatu ketika dokter datang menyampaikan kabar tentang kehamilanku dan semua ibu sangat mengetahui arti kalimat tersebut. Bercampur rasa gembira dan bahagia dalam diri ini sebagaimana ia adalah awal mula dari perubahan fisik dan emosi…

Semenjak kabar gembira tersebut aku membawamu 9 bulan. Tidur, berdiri, makan dan bernafas dalam kesulitan. Akan tetapi itu semua tidak mengurangi cinta dan kasih sayangku kepadamu, bahkan ia tumbuh bersama berjalannya waktu.

Aku mengandungmu, wahai anakku! Pada kondisi lemah di atas lemah, bersamaan dengan itu aku begitu gembira tatkala merasakan terjangan kakimu dan balikan badanmu di perutku. Aku merasa puas setiap aku menimbang diriku, karena semakin hari semakin bertambah berat perutku, berarti engkau sehat wal afiat dalam rahimku.

Penderitaan yang berkepanjangan menderaku, sampailah saat itu, ketika fajar pada malam itu, yang aku tidak dapat tidur dan memejamkan mataku barang sekejap pun.. Aku merasakan sakit yang tidak tertahankan dan rasa takut yang tidak bisa dilukiskan.

Sakit itu terus berlanjut sehingga membuatku tidak dapat lagi menangis. Sebanyak itu pula aku melihat kematian menari-nari di pelupuk mataku, hingga tibalah waktunya engkau keluar ke dunia. Engkau pun lahir… Tangisku bercampur dengan tangismu, air mata kebahagiaan. Dengan semua itu, sirna semua keletihan dan kesedihan, hilang semua sakit dan penderitaan, bahkan kasihku padamu semakin bertambah dengan bertambah kuatnya sakit. Aku raih dirimu sebelum aku meraih minuman, aku peluk cium dirimu sebelum meneguk satu tetes air yang ada di kerongkonganku.

Wahai anakku… telah berlalu tahun dari usiamu, aku membawamu dengan hatiku dan memandikanmu dengan kedua tangan kasih sayangku. Saripati hidupku kuberikan kepadamu. Aku tidak tidur demi tidurmu, berletih demi kebahagiaanmu. .

Harapanku pada setiap harinya, agar aku melihat senyumanmu. Kebahagiaanku setiap saat adalah celotehmu dalam meminta sesuatu, agar aku berbuat sesuatu untukmu… itulah kebahagiaanku!

Kemudian, berlalulah waktu. Hari berganti hari, bulan berganti bulan dan tahun berganti tahun. Selama itu pula aku setia menjadi pelayanmu yang tidak pernah lalai, menjadi dayangmu yang tidak pernah berhenti, dan menjadi pekerjamu yang tidak pernah mengenal lelah serta mendo’akan selalu kebaikan dan taufiq untukmu.

Aku selalu memperhatikan dirimu hari demi hari hingga engkau menjadi dewasa. Mata yang tajam, senyum manis yang menghiasi wajahmu, telah menambah kecantikanmmu. Tatkala itu aku mulai melirik ke kiri dan ke kanan demi mencari pasangan hidupmu.

Semakin dekat hari perkawinanmu, semakin dekat pula hari kepergianmu. saat itu pula hatiku mulai serasa teriris-iris, air mataku mengalir, entah apa rasanya hati ini. Bahagia telah bercampur dengan duka, tangis telah bercampur pula dengan tawa. Bahagia karena engkau mendapatkan pasangan dan sedih karena engkau pelipur hatiku akan berpisah denganku.

Waktu berlalu seakan-akan aku menyeretnya dengan berat. Kiranya setelah perkawinan itu aku tidak lagi mengenal dirimu, senyummu yang selama ini menjadi pelipur duka dan kesedihan, sekarang telah sirna bagaikan matahari yang ditutupi oleh kegelapan malam. Tawamu yang selama ini kujadikan buluh perindu, sekarang telah tenggelam seperti batu yang dijatuhkan ke dalam kolam yang hening, dengan dedaunan yang berguguran. Aku benar-benar tidak mengenalmu lagi karena engkau telah melupakanku dan melupakan hakku.

Terasa lama hari-hari yang kulewati hanya untuk ingin melihat rupamu. Detik demi detik kuhitung demi mendengarkan suaramu. Akan tetapi penantian kurasakan sangat panjang. Aku selalu berdiri di pintu hanya untuk melihat dan menanti kedatanganmu. Setiap kali berderit pintu aku manyangka bahwa engkaulah orang yang datang itu. Setiap kali telepon berdering aku merasa bahwa engkaulah yang menelepon. Setiap suara kendaraan yang lewat aku merasa bahwa engkaulah yang datang.

Akan tetapi, semua itu tidak ada. Penantianku sia-sia dan harapanku hancur berkeping, yang ada hanya keputusasaan. Yang tersisa hanyalah kesedihan dari semua keletihan yang selama ini kurasakan. Sambil menangisi diri dan nasib yang memang telah ditakdirkan oleh-Nya.

Anakku… ibumu ini tidaklah meminta banyak, dan tidaklah menagih kepadamu yang bukan-bukan. Yang Ibu pinta, jadikan ibumu sebagai sahabat dalam kehidupanmu. Jadikanlah ibumu yang malang ini sebagai pembantu di rumahmu, agar bisa juga aku menatap wajahmu, agar Ibu teringat pula dengan hari-hari bahagia masa kecilmu.

Dan Ibu memohon kepadamu, Nak! Janganlah engkau memasang jerat permusuhan denganku, jangan engkau buang wajahmu ketika Ibu hendak memandang wajahmu!!

Yang Ibu tagih kepadamu, jadikanlah rumah ibumu, salah satu tempat persinggahanmu, agar engkau dapat sekali-kali singgah ke sana sekalipun hanya satu detik. Jangan jadikan ia sebagai tempat sampah yang tidak pernah engkau kunjungi, atau sekiranya terpaksa engkau datangi sambil engkau tutup hidungmu dan engkaupun berlalu pergi.

Anakku, telah bungkuk pula punggungku. Bergemetar tanganku, karena badanku telah dimakan oleh usia dan digerogoti oleh penyakit… Berdiri seharusnya dipapah, dudukpun seharusnya dibopong, sekalipun begitu cintaku kepadamu masih seperti dulu… Masih seperti lautan yang tidak pernah kering. Masih seperti angin yang tidak pernah berhenti.

Sekiranya engkau dimuliakan satu hari saja oleh seseorang, niscaya engkau akan balas kebaikannya dengan kebaikan setimpal. Sedangkan kepada ibumu… Mana balas budimu, nak!? Mana balasan baikmu! Bukankah air susu seharusnya dibalas dengan air susu serupa?! Akan tetapi kenapa nak! Susu yang Ibu berikan engkau balas dengan tuba. Bukankah Allah ta’ala telah berfirman, “Bukankah balasan kebaikan kecuali dengan kebaikan pula?!” (QS. Ar Rahman: 60) Sampai begitu keraskah hatimu, dan sudah begitu jauhkah dirimu?! Setelah berlalunya hari dan berselangnya waktu?!

Wahai anakku, setiap kali aku mendengar bahwa engkau bahagia dengan hidupmu, setiap itu pula bertambah kebahagiaanku. Bagaimana tidak, engkau adalah buah dari kedua tanganku, engkaulah hasil dari keletihanku. Engkaulah laba dari semua usahaku! Kiranya dosa apa yang telah kuperbuat sehingga engkau jadikan diriku musuh bebuyutanmu? ! Pernahkah aku berbuat khilaf dalam salah satu waktu selama bergaul denganmu, atau pernahkah aku berbuat lalai dalam melayanimu?

Terus, jika tidak demikian, sulitkah bagimu menjadikan statusku sebagai budak dan pembantu yang paling hina dari sekian banyak pembantu dan budakmu. Semua mereka telah mendapatkan upahnya!? Mana upah yang layak untukku wahai anakku!

Dapatkah engkau berikan sedikit perlindungan kepadaku di bawah naungan kebesaranmu? Dapatkah engkau menganugerahkan sedikit kasih sayangmu demi mengobati derita orang tua yang malang ini? Sedangkan Allah ta’ala mencintai orang yang berbuat baik.

Wahai anakku!! Aku hanya ingin melihat wajahmu, dan aku tidak menginginkan yang lain.

Wahai anakku! Hatiku teriris, air mataku mengalir, sedangkan engkau sehat wal afiat. Orang-orang sering mengatakan bahwa engkau seorang wanita supel, dermawan, dan berbudi. Anakku… Tidak tersentuhkah hatimu terhadap seorang wanita tua yang lemah, tidak terenyuhkah jiwamu melihat orang tua yang telah renta ini, ia binasa dimakan oleh rindu, berselimutkan kesedihan dan berpakaian kedukaan!? Bukan karena apa-apa?! Akan tetapi hanya karena engkau telah berhasil mengalirkan air matanya… Hanya karena engkau telah membalasnya dengan luka di hatinya… hanya karena engkau telah pandai menikam dirinya dengan belati durhakamu tepat menghujam jantungnya… hanya karena engkau telah berhasil pula memutuskan tali silaturrahim? !

Wahai anakku, ibumu inilah sebenarnya pintu surga bagimu. Maka titilah jembatan itu menujunya, lewatilah jalannya dengan senyuman yang manis, pemaafan dan balas budi yang baik. Semoga aku bertemu denganmu di sana dengan kasih sayang Allah ta’ala, sebagaimana dalam hadits: “Orang tua adalah pintu surga yang di tengah. Sekiranya engkau mau, maka sia-siakanlah pintu itu atau jagalah!!” (HR. Ahmad)

Anakku. Aku sangat mengenalmu, tahu sifat dan akhlakmu. Semenjak engkau telah beranjak dewasa saat itu pula tamak dan labamu kepada pahala dan surga begitu tinggi. Engkau selalu bercerita tentang keutamaan shalat berjamaah dan shaf pertama. Engkau selalu berniat untuk berinfak dan bersedekah.

Akan tetapi, anakku! Mungkin ada satu hadits yang terlupakan olehmu! Satu keutamaan besar yang terlalaikan olehmu yaitu bahwa Nabi yang mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Dari Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata: Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, amal apa yang paling mulia? Beliau berkata: “Shalat pada waktunya”, aku berkata: “Kemudian apa, wahai Rasulullah?” Beliau berkata: “Berbakti kepada kedua orang tua”, dan aku berkata: “Kemudian, wahai Rasulullah!” Beliau menjawab, “Jihad di jalan Allah”, lalu beliau diam. Sekiranya aku bertanya lagi, niscaya beliau akan menjawabnya. (Muttafaqun ‘alaih)

Wahai anakku!! Ini aku, pahalamu, tanpa engkau bersusah payah untuk memerdekakan budak atau berletih dalam berinfak. Pernahkah engkau mendengar cerita seorang ayah yang telah meninggalkan keluarga dan anak-anaknya dan berangkat jauh dari negerinya untuk mencari tambang emas?! Setelah tiga puluh tahun dalam perantauan, kiranya yang ia bawa pulang hanya tangan hampa dan kegagalan. Dia telah gagal dalam usahanya. Setibanya di rumah, orang tersebut tidak lagi melihat gubuk reotnya, tetapi yang dilihatnya adalah sebuah perusahaan tambang emas yang besar. Berletih mencari emas di negeri orang kiranya, di sebelah gubuk reotnya orang mendirikan tambang emas.

Begitulah perumpamaanmu dengan kebaikan. Engkau berletih mencari pahala, engkau telah beramal banyak, tapi engkau telah lupa bahwa di dekatmu ada pahala yang maha besar. Di sampingmu ada orang yang dapat menghalangi atau mempercepat amalmu. Bukankah ridhoku adalah keridhoan Allah ta’ala, dan murkaku adalah kemurkaan-Nya?

Anakku, yang aku cemaskan terhadapmu, yang aku takutkan bahwa jangan-jangan engkaulah yang dimaksudkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya: “Merugilah seseorang, merugilah seseorang, merugilah seseorang”, dikatakan, “Siapa dia,wahai Rasulullah?, “Orang yang mendapatkan kedua ayah ibunya ketika tua, dan tidak memasukkannya ke surga”. (HR. Muslim)

Anakku… Aku tidak akan angkat keluhan ini ke langit dan aku tidak adukan duka ini kepada Allah, karena sekiranya keluhan ini telah membumbung menembus awan, melewati pintu-pintu langit, maka akan menimpamu kebinasaan dan kesengsaraan yang tidak ada obatnya dan tidak ada tabib yang dapat menyembuhkannya. Aku tidak akan melakukannya, Nak! Bagaimana aku akan melakukannya sedangkan engkau adalah jantung hatiku… Bagaimana ibumu ini kuat menengadahkan tangannya ke langit sedangkan engkau adalah pelipur laraku. Bagaimana Ibu tega melihatmu merana terkena do’a mustajab, padahal engkau bagiku adalah kebahagiaan hidupku.

Bangunlah Nak! Akan berlalu masa hingga engkau akan menjadi tua pula, dan al jaza’ min jinsil amal… “Engkau akan memetik sesuai dengan apa yang engkau tanam…” Aku tidak ingin engkau nantinya menulis surat yang sama kepada anak-anakmu, engkau tulis dengan air matamu sebagaimana aku menulisnya dengan air mata itu pula kepadamu.

Wahai anakku, bertaqwalah kepada Allah pada ibumu, peganglah kakinya!! Sesungguhnya surga di kakinya. Basuhlah air matanya, balurlah kesedihannya, kencangkan tulang ringkihnya, dan kokohkan badannya yang telah lapuk.Anakku… Setelah engkau membaca surat ini,terserah padamu! Apakah engkau sadar dan akan kembali atau engkau ingin merobeknya.

Wassalam,

Ibumu

(Diambil dari email seorang sahabat kepadaku...
Semoga kita tak melupakan hak-hak ibu kita...)
Selamat hari Ibu, 22 Desember 2009
Baca Selengkapnya...

Demi Masa

YM

Profil Saya

Foto saya
Wafa Athafunnisa adalah nama yang saya gunakan sebagai nama pena, karena dia mengandung makna kesetiaan seorang wanita yang berwatak lembut. Semoga menjadi do'a yang baik bagi si pemakainya... Lantas, mengapa ungu??? Tahukah kalian bahwa warna ungu menunjukkan kesendirian, misterius daan eksklusifisme?? Mungkin ada sedikit benarnya, karena sebagian besar postingan artikel yang saya buat adalah hasil dari "menyendiri" yang pada akhirnya menjadikan sebuah inspirasi yang mudah-mudahan bisa memberi manfaat bagi semua yang membacanya.

Arsip

 
Seketsa Ungu© Diseñado por: Compartidisimo