Tadi pagi kampus heboh dengan berita duka cita, kepala TU di Fakultas kami dikabarkan meninggal dunia. Semasa hidup beliau dikenal sebagai orang yang supel, ramah, senang bergaul dengan kalangan d0sen, para petinggi kampus dan bahkan mahasiswa...
Beliau sering berinteraksi dengan mahasiswa terutama untuk , diskusi atau hanya sekedar bercanda untuk menghidupkan suasana.
Yah, beliau memang masih cukup muda usianya sekitar 40 tahunan...
Dan beliau tergolong orang yang jarang sakit, karena tampaknya beliau memang gemar berolah raga sehingga k0ndisi beliau selalu fit.
Namun tadi pagi, kami mendengar berita duka ini...
Kami mendapatkan informasi dari keluarganya, bahwa tadi pagi setelah sholat subuh beliau izin tidur sebentar karena kecapekan semalam. Namun ketika matahari mulai menampakkan sinarnya, ternyata beliau telah berpulang dan tidak bangun lagi untuk selamanya..
Seluruh masyarakat kampus berduka dan berb0ndong-bondong untuk takziyah. Jadi semua aktivitas perkuliahan dan praktikum dihentikan sementara karena jenazah akan disholatkan di kampus.
Begitu banyak orang yang ikut takziyah dan mendo'akan beliau agar segala amal dan kebaikannya diterima di sisi-Nya.
Begitulah....
Kematian pasti akan dialami oleh setiap orang. Setiap kita tidak ada yang mengetahui kapan ajal akan menjemput. Ada diantara kita yang sedang duduk tidak bisa bangun lagi, ada yang sedang bepergian tidak pulang lagi ke rumahnya dan ada yang sedang tidur berlanjut pada tidur untuk selamanya.
Kematian yang sudah pasti itu akan menjemput kita dengan waktu yang setiap kita tidak mengetahuinya, bisa jadi sekarang atau hari ini atau minggu ini atau bulan ini, yang jelas pasti datang. Keyakinan ini akan menyadarkan kita untuk segera mempersiapkan diri menghadapinya dengan banyak bertaubat kepada Allah SWT, segera kembali kepada-Nya dan segera meningkatkan keimanan dan ketaqwaan. Segera sadar dan bangkit dari tidur panjang kelalaiannya selama ini.
Perbanyaklah mengingat sesuatu yang melenyapkan semua kelezatan, yaitu kematian!” (HR. Tirmidzi)
Kita juga tak pernah tahu, apakah nanti setelah kita meninggalkan dunia ini banyak dari teman-teman, sahabat dan kerabat yang akan mengantarkan kepulangan kita, mensholatkan kita dan mendo'akan yang terbaik untuk kita. Karena hanya itulah yang bisa kita harapkan, do'a.... karena ialah amalan yang tidak akan terputus meskipun jasad kita sudah masuk ke liang lahat. Selain amal jariyah dan ilmu yang bermanfaat tentunya.
Jika anak Adam meninggal, maka amalnya terputus kecuali dari tiga perkara, sedekah jariyah (wakaf), ilmu yang bermanfaat, dan anak shaleh yang berdoa kepadanya.” (HR Muslim)
Banyak orang tertawa tanpa (mau) menyadari sang maut sedang mengintainya. Banyak orang cepat datang ke shaf shalat layaknya orang yang amat merindukan kekasih. Sayang ternyata ia datang tergesa-gesa hanya agar dapat segera pergi. Seperti penagih hutang yang kejam ia perlakukan tuhannya. Dari jahil engkau disuruh berilmu dan tak ada izin untuk berhenti hanya pada ilmu. Engkau dituntut beramal dengan ilmu yang Allah berikan. Tanpa itu alangkah besar kemurkaan Allah atasmu
(Kematian hati Ust.Rahmat Abdullah)
Itulah fen0mena yang terjadi sekarang, apakah kita termasuk golongan yang disebutkan oleh Syaikhuttarbiyah di atas?
Kematian jasad memang pasti akan terjadi, namun alangkah ruginya jika kematian hati menimpa kita.
Mati sebelum mati..
Na'udzubillah..
Semoga kita terhindar dari kematian hati dan termasuk hamba yang bersiap sedia, mempersiapkan bekal untuk hari yang telah dijanjikan.
Amin....
Baca Selengkapnya...

Kamis, 07 Januari 2010
Nasehat yang Bisu
Jumat, 01 Januari 2010
Sebuah momentum di awal tahun
Aku pulang dari tempat aktivitas dengan melewati jalan-jalan yang biasanya lengang karena memang sudah larut malam...
Namun malam ini jauh berbeda...
Memang bukan malam biasa bagi sebagian orang, Ya...ini adalah malam pergantian tahun.
Orang-orang rela keluar larut malam, hanya sekedar ingin melewati malam pergantian tahun dengan pesta kembang api, makan-makan bareng atau mungkin hanya sekedar melihat-lihat di pusat-pusat keramaian. Bahkan tak jarang anak-anak kecilpun tak luput dari euphoria malam pergantian tahun ini.
Ada yang menghabiskan malam dengan berkumpul dengan keluarga, mempererat silaturahim.
Namum ada juga sebagian orang yang duduk dalam majelis-majelis muhasabah di masjid-masjid dan mabit...
Begitulah fen0mena yang terjadi di malam pergantian tahun ini...
Namun bagiku, malam pergantian tahun memang menjadi saat istimewa sebagai sarana muhasabah...
Karena saat itu pulalah jatah usiaku akan berkurang...
Apakah pencapaianku selama ini sudah sesuai dengan rencana atau target?
Meski takkan bisa lepas dari ketentuanNYA...
Namun aku ingin setiap detik waktu yang Allah berikan kepadaku ini, dapat kugunakan untuk menciptakan m0mentum kebaikan...
Mungkin malam ini adalah malam yang sama dengan beberapa tahun yang lalu ketika aku mulai mengenal dunia ini.
Meskipun namanya sama,malam tahun baru...
Namun ternyata malam ini adalah malam ketika aku telah mengambil kesempatan-kesempatan yang telah diberikan untuk menciptakan m0mentum...
Momentum terbaik yang telah membawaku pada k0ndisi saat ini...
Sangat berbeda dengan beberapa tahun yang lalu...
Kuharap aku bukanlah orang yang menyia2kan waktu&kesempatan yang telah diberi selama ini.
Seperti firman Allah surat Al-'Ashr:1-3, "Demi masa.Sesungguhnya manusia itu benar2 dlm kerugian.Kecuali orang2 yg beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati spy menetapi kesabaran."
Malam ini kumaknai sebagai t0nggak awal untuk memperbaiki diri, bukan hanya untuk malam ini saja. Namun kuharapkan seluruh kehidupanku ke depan dapat kujadikan m0mentum untuk menjadi lebih baik dan lebih baik lagi...
Hari ini adalah saat yang sesungguhnya, saat beramal dan menabung amal shalih.
Waktu kemarin tidak mungkin datang lagi. Yg lalu pasti sudah lewat dan tidak akan pernah kembali lagi, selama-lamanya.
Sedang esok? Masih sangat gelap dan tidak akan pernah bisa menduga.
Terakhir, kututup dengan sabda Rasulullah SAW "Tidak akan melangkah kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat hingga ditanya 4 perkara. Usianya,untuk apa dia habiskan. Masa mudanya,bagaimana dia habiskan. Hartanya,darimana dia dapatkan dan pada jalan apa dia keluarkan. Serta ilmunya,apa yg telah ia perbuat dengannya."
(HR. Al-Bazzar dan Thabrani)
Astaghfirullahal'adzim, sm0ga Allah mengampuni kelalaianku selama ini...
Salam semangat, di tahun yang baru !!!
awal tahun 2010,pukul 00:50
(di saat usiaku berkurang...) Baca Selengkapnya...
Refleksi Hijrah
Dalam surat An-Nisa' Allah telah berfirman,
Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya: "Dalam keadaan bagaimana kamu ini? ". Mereka menjawab:" Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah) ". Para malaikat berkata:" Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu? ". Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali. (QS. an-Nisa' (4) : 97)
Kecuali mereka yang tertindas baik laki-laki atau wanita ataupun anak-anak yang tidak mampu berdaya upaya dan tidak mengetahui jalan (untuk hijrah). (QS. an-Nisa' (4) : 98)
Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dimaksud), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. an-Nisa' (4) : 100)
Namun dibalik itu semua pasti ada orang-orang yang tidak ikut hijrah, mereka mundur sebelum bertempur. Dan mereka itulah orang-orang munafik.
Dengan hijrah inilah tersaring kualitas dari sahabat Rasulullah SAW. Hanya orang-orang yang istiqomahlah yang senantiasa ikut menyertai Rasulullah untuk hijrah ke Madinah.
"Berguguranlah orang-orang yang akan gugur, dan istiqomahlah orang-orang yang istiqomah "
Tarbiyah adalah suatu keniscayaan (Hatmiyatul Tarbiyah)
Kaum Anshar rela memberikan segala-galanya kepada saudaranya kaum Muhajirin karena proses tarbiyah yang dilakukan oleh sahabat Rasulullah, seorang pemuda yang brillian Mush'ab bin Umair selama 2 tahun.
Hasan al-Banna says:
Tarbiyah memang bukan segala-galanya, namun segalanya bermula dari tarbiyah...
Ini adalah dasar yang membenarkan bahwa dalam dakwah ini, kita boleh berkoalisi dengan orang yang bukan kelompok kita asalkan sesuai dengan visi dan misi kita.
Setiap kader ada perannya masing-masing dalam amal jama'i
Subhanallah, pribadi-pribadi yang luar biasa seperti ini takkan lahir begitu saja. Namun ini adalah hasil tarbiyah Rasulullah SAW.
Lantas, dimanakah kita sekarang????
Ketsiqohan/ kepercayaan kepada qiyadah/pimpinan adalah syarat mutlak bagi kelangsungan dakwah ini.
Kamis, 31 Desember 2009
Keajaiban Lebah
Selasa, 29 Desember 2009
Syukur 21
Sudah berkali-kali mendengar nasyid ini, namun entah mengapa perasaan haru selalu hadir menyeruak...
Tetes-tetes bening mulai membayang di pelupuk mata...
Fikirku melayang ke beberapa tahun silam, ketika aku mulai mengenal Islam secara futuh.
Lewat nasyid ini pula, yang menjadi soundtrack film "Syukur 21" aku mulai mengenal kajian-kajian keislaman yang diadakan organisasi keislaman di sekolahku.
Pada awalnya memang hanya tertarik karena ada pemutaran film "Syukur 21" yang kata teman-temanku yang sudah biasa mengikuti acara kajian keislaman atau yang di kalangan mereka disebut aktivis Rohis, filmnya bagus...
Film produksi Malaysia yang tidak kalah dengan film-film buatan barat yang mengandalkan teknologi canggih.
Dimana tim nasyid Raihan dan Yasin "Brother" juga ikut memerankan di film ini.
Akhirnya lewat ajakan dari teman itulah aku mulai kenal dengan saudara-saudara seiman, seakidah, sefikroh, yang Subhanallah...sumber inspirasi...
Saudara yang tak sekadar teman di waktu suka dan duka, namun juga sahabat untuk saling mengingatkan dalam kebajikan...
Aku bersyukur, sampai saat ini aku masih berada di tengah-tengah k0munitas yang kuyakini bisa lebih mendekatkan diri ini kepada Allah...
Komunitas yang bisa memacu diri ini untuk lebih memaksimalkan p0tensi diri...
Komunitas yang akan membentuk keluarga-keluarga muslim, sebagai pencetak generasi penerus perjuangan dakwah...
Komunitas yang selalu menjadi garda terdepan untuk melayani masyarakat...
Komunitas yang ingin mewujudkan negeri ini menjadi negeri yang berkeadilan&sejahtera...
Do'akan kami agar senantiasa istiq0mah...
"Ini langkahku, yang kan ku ayuh...
Walaupun payah, tak akan jera...
Ini langkahku,kan trus melaju...
Setegar karang, bangkitkan jihadku..."
nasyid dari Soutul Harokah yang berjudul ini langkahku, mengakhiri perjalanan ini sampai ke tempat tujuan.
Allahu Akbar !!!
(Di sepanjang perjalanan menuju Bogor dalam rangka rihlah Dpra PKS Malakasari, 26 Desember 2009) Baca Selengkapnya...
Selasa, 22 Desember 2009
Surat dari Ibu....
Segala puji Ibu panjatkan kehadirat Allah ta’ala yang telah memudahkan Ibu untuk beribadah kepada-Nya. Shalawat serta salam Ibu sampaikan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarga dan para sahabatnya. Amin…
Wahai anakku,
Surat ini datang dari Ibumu yang selalu dirundung sengsara… Setelah berpikir panjang Ibu mencoba untuk menulis dan menggoreskan pena, sekalipun keraguan dan rasa malu menyelimuti diri. Setiap kali menulis, setiap kali itu pula gores tulisan terhalang oleh tangis, dan setiap kali menitikkan air mata setiap itu pula hati terluka…
Wahai anakku!
Sepanjang masa yang telah engkau lewati, kulihat engkau telah menjadi wanita dewasa, wanita yang lembut dan cerdas! Karenanya engkau pantas membaca tulisan ini, sekalipun nantinya engkau remas kertas ini lalu engkau merobeknya, sebagaimana sebelumnya engkau telah remas hati dan telah engkau robek pula perasaanku.
Wahai anakku… 24 tahun telah berlalu, dan tahun-tahun itu merupakan tahun kebahagiaan dalam kehidupanku. Suatu ketika dokter datang menyampaikan kabar tentang kehamilanku dan semua ibu sangat mengetahui arti kalimat tersebut. Bercampur rasa gembira dan bahagia dalam diri ini sebagaimana ia adalah awal mula dari perubahan fisik dan emosi…
Semenjak kabar gembira tersebut aku membawamu 9 bulan. Tidur, berdiri, makan dan bernafas dalam kesulitan. Akan tetapi itu semua tidak mengurangi cinta dan kasih sayangku kepadamu, bahkan ia tumbuh bersama berjalannya waktu.
Aku mengandungmu, wahai anakku! Pada kondisi lemah di atas lemah, bersamaan dengan itu aku begitu gembira tatkala merasakan terjangan kakimu dan balikan badanmu di perutku. Aku merasa puas setiap aku menimbang diriku, karena semakin hari semakin bertambah berat perutku, berarti engkau sehat wal afiat dalam rahimku.
Penderitaan yang berkepanjangan menderaku, sampailah saat itu, ketika fajar pada malam itu, yang aku tidak dapat tidur dan memejamkan mataku barang sekejap pun.. Aku merasakan sakit yang tidak tertahankan dan rasa takut yang tidak bisa dilukiskan.
Sakit itu terus berlanjut sehingga membuatku tidak dapat lagi menangis. Sebanyak itu pula aku melihat kematian menari-nari di pelupuk mataku, hingga tibalah waktunya engkau keluar ke dunia. Engkau pun lahir… Tangisku bercampur dengan tangismu, air mata kebahagiaan. Dengan semua itu, sirna semua keletihan dan kesedihan, hilang semua sakit dan penderitaan, bahkan kasihku padamu semakin bertambah dengan bertambah kuatnya sakit. Aku raih dirimu sebelum aku meraih minuman, aku peluk cium dirimu sebelum meneguk satu tetes air yang ada di kerongkonganku.
Wahai anakku… telah berlalu tahun dari usiamu, aku membawamu dengan hatiku dan memandikanmu dengan kedua tangan kasih sayangku. Saripati hidupku kuberikan kepadamu. Aku tidak tidur demi tidurmu, berletih demi kebahagiaanmu. .
Harapanku pada setiap harinya, agar aku melihat senyumanmu. Kebahagiaanku setiap saat adalah celotehmu dalam meminta sesuatu, agar aku berbuat sesuatu untukmu… itulah kebahagiaanku!
Kemudian, berlalulah waktu. Hari berganti hari, bulan berganti bulan dan tahun berganti tahun. Selama itu pula aku setia menjadi pelayanmu yang tidak pernah lalai, menjadi dayangmu yang tidak pernah berhenti, dan menjadi pekerjamu yang tidak pernah mengenal lelah serta mendo’akan selalu kebaikan dan taufiq untukmu.
Aku selalu memperhatikan dirimu hari demi hari hingga engkau menjadi dewasa. Mata yang tajam, senyum manis yang menghiasi wajahmu, telah menambah kecantikanmmu. Tatkala itu aku mulai melirik ke kiri dan ke kanan demi mencari pasangan hidupmu.
Semakin dekat hari perkawinanmu, semakin dekat pula hari kepergianmu. saat itu pula hatiku mulai serasa teriris-iris, air mataku mengalir, entah apa rasanya hati ini. Bahagia telah bercampur dengan duka, tangis telah bercampur pula dengan tawa. Bahagia karena engkau mendapatkan pasangan dan sedih karena engkau pelipur hatiku akan berpisah denganku.
Waktu berlalu seakan-akan aku menyeretnya dengan berat. Kiranya setelah perkawinan itu aku tidak lagi mengenal dirimu, senyummu yang selama ini menjadi pelipur duka dan kesedihan, sekarang telah sirna bagaikan matahari yang ditutupi oleh kegelapan malam. Tawamu yang selama ini kujadikan buluh perindu, sekarang telah tenggelam seperti batu yang dijatuhkan ke dalam kolam yang hening, dengan dedaunan yang berguguran. Aku benar-benar tidak mengenalmu lagi karena engkau telah melupakanku dan melupakan hakku.
Terasa lama hari-hari yang kulewati hanya untuk ingin melihat rupamu. Detik demi detik kuhitung demi mendengarkan suaramu. Akan tetapi penantian kurasakan sangat panjang. Aku selalu berdiri di pintu hanya untuk melihat dan menanti kedatanganmu. Setiap kali berderit pintu aku manyangka bahwa engkaulah orang yang datang itu. Setiap kali telepon berdering aku merasa bahwa engkaulah yang menelepon. Setiap suara kendaraan yang lewat aku merasa bahwa engkaulah yang datang.
Akan tetapi, semua itu tidak ada. Penantianku sia-sia dan harapanku hancur berkeping, yang ada hanya keputusasaan. Yang tersisa hanyalah kesedihan dari semua keletihan yang selama ini kurasakan. Sambil menangisi diri dan nasib yang memang telah ditakdirkan oleh-Nya.
Anakku… ibumu ini tidaklah meminta banyak, dan tidaklah menagih kepadamu yang bukan-bukan. Yang Ibu pinta, jadikan ibumu sebagai sahabat dalam kehidupanmu. Jadikanlah ibumu yang malang ini sebagai pembantu di rumahmu, agar bisa juga aku menatap wajahmu, agar Ibu teringat pula dengan hari-hari bahagia masa kecilmu.
Dan Ibu memohon kepadamu, Nak! Janganlah engkau memasang jerat permusuhan denganku, jangan engkau buang wajahmu ketika Ibu hendak memandang wajahmu!!
Yang Ibu tagih kepadamu, jadikanlah rumah ibumu, salah satu tempat persinggahanmu, agar engkau dapat sekali-kali singgah ke sana sekalipun hanya satu detik. Jangan jadikan ia sebagai tempat sampah yang tidak pernah engkau kunjungi, atau sekiranya terpaksa engkau datangi sambil engkau tutup hidungmu dan engkaupun berlalu pergi.
Anakku, telah bungkuk pula punggungku. Bergemetar tanganku, karena badanku telah dimakan oleh usia dan digerogoti oleh penyakit… Berdiri seharusnya dipapah, dudukpun seharusnya dibopong, sekalipun begitu cintaku kepadamu masih seperti dulu… Masih seperti lautan yang tidak pernah kering. Masih seperti angin yang tidak pernah berhenti.
Sekiranya engkau dimuliakan satu hari saja oleh seseorang, niscaya engkau akan balas kebaikannya dengan kebaikan setimpal. Sedangkan kepada ibumu… Mana balas budimu, nak!? Mana balasan baikmu! Bukankah air susu seharusnya dibalas dengan air susu serupa?! Akan tetapi kenapa nak! Susu yang Ibu berikan engkau balas dengan tuba. Bukankah Allah ta’ala telah berfirman, “Bukankah balasan kebaikan kecuali dengan kebaikan pula?!” (QS. Ar Rahman: 60) Sampai begitu keraskah hatimu, dan sudah begitu jauhkah dirimu?! Setelah berlalunya hari dan berselangnya waktu?!
Wahai anakku, setiap kali aku mendengar bahwa engkau bahagia dengan hidupmu, setiap itu pula bertambah kebahagiaanku. Bagaimana tidak, engkau adalah buah dari kedua tanganku, engkaulah hasil dari keletihanku. Engkaulah laba dari semua usahaku! Kiranya dosa apa yang telah kuperbuat sehingga engkau jadikan diriku musuh bebuyutanmu? ! Pernahkah aku berbuat khilaf dalam salah satu waktu selama bergaul denganmu, atau pernahkah aku berbuat lalai dalam melayanimu?
Terus, jika tidak demikian, sulitkah bagimu menjadikan statusku sebagai budak dan pembantu yang paling hina dari sekian banyak pembantu dan budakmu. Semua mereka telah mendapatkan upahnya!? Mana upah yang layak untukku wahai anakku!
Dapatkah engkau berikan sedikit perlindungan kepadaku di bawah naungan kebesaranmu? Dapatkah engkau menganugerahkan sedikit kasih sayangmu demi mengobati derita orang tua yang malang ini? Sedangkan Allah ta’ala mencintai orang yang berbuat baik.
Wahai anakku!! Aku hanya ingin melihat wajahmu, dan aku tidak menginginkan yang lain.
Wahai anakku! Hatiku teriris, air mataku mengalir, sedangkan engkau sehat wal afiat. Orang-orang sering mengatakan bahwa engkau seorang wanita supel, dermawan, dan berbudi. Anakku… Tidak tersentuhkah hatimu terhadap seorang wanita tua yang lemah, tidak terenyuhkah jiwamu melihat orang tua yang telah renta ini, ia binasa dimakan oleh rindu, berselimutkan kesedihan dan berpakaian kedukaan!? Bukan karena apa-apa?! Akan tetapi hanya karena engkau telah berhasil mengalirkan air matanya… Hanya karena engkau telah membalasnya dengan luka di hatinya… hanya karena engkau telah pandai menikam dirinya dengan belati durhakamu tepat menghujam jantungnya… hanya karena engkau telah berhasil pula memutuskan tali silaturrahim? !
Wahai anakku, ibumu inilah sebenarnya pintu surga bagimu. Maka titilah jembatan itu menujunya, lewatilah jalannya dengan senyuman yang manis, pemaafan dan balas budi yang baik. Semoga aku bertemu denganmu di sana dengan kasih sayang Allah ta’ala, sebagaimana dalam hadits: “Orang tua adalah pintu surga yang di tengah. Sekiranya engkau mau, maka sia-siakanlah pintu itu atau jagalah!!” (HR. Ahmad)
Anakku. Aku sangat mengenalmu, tahu sifat dan akhlakmu. Semenjak engkau telah beranjak dewasa saat itu pula tamak dan labamu kepada pahala dan surga begitu tinggi. Engkau selalu bercerita tentang keutamaan shalat berjamaah dan shaf pertama. Engkau selalu berniat untuk berinfak dan bersedekah.
Akan tetapi, anakku! Mungkin ada satu hadits yang terlupakan olehmu! Satu keutamaan besar yang terlalaikan olehmu yaitu bahwa Nabi yang mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Dari Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata: Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, amal apa yang paling mulia? Beliau berkata: “Shalat pada waktunya”, aku berkata: “Kemudian apa, wahai Rasulullah?” Beliau berkata: “Berbakti kepada kedua orang tua”, dan aku berkata: “Kemudian, wahai Rasulullah!” Beliau menjawab, “Jihad di jalan Allah”, lalu beliau diam. Sekiranya aku bertanya lagi, niscaya beliau akan menjawabnya. (Muttafaqun ‘alaih)
Wahai anakku!! Ini aku, pahalamu, tanpa engkau bersusah payah untuk memerdekakan budak atau berletih dalam berinfak. Pernahkah engkau mendengar cerita seorang ayah yang telah meninggalkan keluarga dan anak-anaknya dan berangkat jauh dari negerinya untuk mencari tambang emas?! Setelah tiga puluh tahun dalam perantauan, kiranya yang ia bawa pulang hanya tangan hampa dan kegagalan. Dia telah gagal dalam usahanya. Setibanya di rumah, orang tersebut tidak lagi melihat gubuk reotnya, tetapi yang dilihatnya adalah sebuah perusahaan tambang emas yang besar. Berletih mencari emas di negeri orang kiranya, di sebelah gubuk reotnya orang mendirikan tambang emas.
Begitulah perumpamaanmu dengan kebaikan. Engkau berletih mencari pahala, engkau telah beramal banyak, tapi engkau telah lupa bahwa di dekatmu ada pahala yang maha besar. Di sampingmu ada orang yang dapat menghalangi atau mempercepat amalmu. Bukankah ridhoku adalah keridhoan Allah ta’ala, dan murkaku adalah kemurkaan-Nya?
Anakku, yang aku cemaskan terhadapmu, yang aku takutkan bahwa jangan-jangan engkaulah yang dimaksudkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya: “Merugilah seseorang, merugilah seseorang, merugilah seseorang”, dikatakan, “Siapa dia,wahai Rasulullah?, “Orang yang mendapatkan kedua ayah ibunya ketika tua, dan tidak memasukkannya ke surga”. (HR. Muslim)
Anakku… Aku tidak akan angkat keluhan ini ke langit dan aku tidak adukan duka ini kepada Allah, karena sekiranya keluhan ini telah membumbung menembus awan, melewati pintu-pintu langit, maka akan menimpamu kebinasaan dan kesengsaraan yang tidak ada obatnya dan tidak ada tabib yang dapat menyembuhkannya. Aku tidak akan melakukannya, Nak! Bagaimana aku akan melakukannya sedangkan engkau adalah jantung hatiku… Bagaimana ibumu ini kuat menengadahkan tangannya ke langit sedangkan engkau adalah pelipur laraku. Bagaimana Ibu tega melihatmu merana terkena do’a mustajab, padahal engkau bagiku adalah kebahagiaan hidupku.
Bangunlah Nak! Akan berlalu masa hingga engkau akan menjadi tua pula, dan al jaza’ min jinsil amal… “Engkau akan memetik sesuai dengan apa yang engkau tanam…” Aku tidak ingin engkau nantinya menulis surat yang sama kepada anak-anakmu, engkau tulis dengan air matamu sebagaimana aku menulisnya dengan air mata itu pula kepadamu.
Wahai anakku, bertaqwalah kepada Allah pada ibumu, peganglah kakinya!! Sesungguhnya surga di kakinya. Basuhlah air matanya, balurlah kesedihannya, kencangkan tulang ringkihnya, dan kokohkan badannya yang telah lapuk.Anakku… Setelah engkau membaca surat ini,terserah padamu! Apakah engkau sadar dan akan kembali atau engkau ingin merobeknya.
Wassalam,
Ibumu
(Diambil dari email seorang sahabat kepadaku...
Semoga kita tak melupakan hak-hak ibu kita...)
Selamat hari Ibu, 22 Desember 2009 Baca Selengkapnya...
Sabtu, 19 Desember 2009
Uzur yang selalu dimaklumkan

"Maaf mbak,saya tidak bisa datang liqo hari ini. Ada undangan teman saya nikah..."
yang lain...
"Saya izin mbak,ada syuro/reunian SMA saya..."
ada juga yang lainnya...
"Mbak,saya ada urusan keluarga. Jadi maaf,tidak bisa hadir..."
Namun ada yang berbeda...
"Saat ini saya sedang futur,saya minta izin untuk kali ini tidak datang liqo.Mohon dimaklumi..."
Berbagai alasan yang sering kita dengar...
Tak ada yang salah,memang...
Toh semua orang suatu saat pasti pernah berada dalam situasi tersebut di atas.
Dalam jamaah,tarbiyah/halaqoh merupakan suatu keniscayaan...
Halaqoh yang aktif,pr0duktif&dinamis akan mencetak generasi2 dakwah yang siap terjun di masyarakat untuk menyebarkan fikroh kebajikan...
Kehadiran dari tiap2 pers0nil halaqoh memegang peranan penting,mesti tak serta merta personil yg rajin hadir selalu lebih baik dari yg sering berhalangan hadir.
Tapi kehadiran setidaknya bisa menjadi parameter tingkat keseriusan para peserta halaqoh.
Tak bisa dipungkiri memang,tuntutan hidup,kesibukan dalam keluarga atau mungkin kadar keimanan yg naik turun akan menjadi alasan atau bahasa yg lebih halus,uzur dalam menjalani pr0ses tarbiyah ini.
Namun uzur yg seperti apa yg bs ditolerir?
Bagaimana uzur syar'i itu?
Dalam halaqoh yg pers0nilnya kebanyakan mahasiswa/lajang, mungkin uzur yang sering adalah karena bentr0k dgn syuro kampus atau ada agenda kegiatan yg lain...
Tak ada yg salah,karena semuanya adalah bagian dari pr0ses tarbiyah...
Lain halnya dgn halaqoh yg sebagian besar pers0nilnya adalah ummahat,maka jenis uzurnya juga lebih k0mpleks. Dari kesibukan keluarga,acara keluarga,ada keluarga yg sakit,dsb.
Semuanya adalah permasalahan yang memang harus disikapi dengan bijak, harus ada yg dipri0ritaskan diatas pri0ritas...
(baca kembali fiqh aulawiyat yah...)
Tidak ada larangan memang,karena tarbiyah bukan paksaan. Namun ketika ini semua menjadi pemakluman terus menerus, lantas apa jadinya tarbiyah ini?
Banyak dari saudara2 kita yg mempunyai seabreg kegiatan,namun tetap istiq0mah dgn tarbiyahnya. Atau mungkin yg ummahat,jika mau pergi ke tempat halaqohnya seperti mau berperang karena harus membawa semua jundi2nya.
Ah,,,masih banyak saudara2 qt yg bisa seperti itu. Lantas,mengapa kita tidak?
Jika kefuturan dijadikan uzur,seperti pernyataan yang terakhir tadi. Maka c0ba kita renungkan kembali perkataan Rasulullah,
"Keimanan manusia itu senantiasa naik dan turun, maka ketika iman sedang turun (futur) tetaplah berpegang pada sunnahku..."
Jadi jelaslah sudah,ketika futur melanda justru harus segera merapat kepada orang2 sholeh agar segera bangkit lagi dari kefuturan.
Harus disadari bersama bahwa tarbiyah memang bukan segalanya,namun segalanya berawal dari tarbiyah...
"Mari kita kembali ke pangkuan tarbiyah"
Wallahua'lam bish showab
special to: teman2 di lingkar kecilku, I miss U...
Baca Selengkapnya...
Terminal Keberangkatan
Apa yg ada di benak sobat2,ketika mendengar kata "terminal" ?
Banyak lalu lalang orang,hmm..tentunya.
Segala macam orang ada di sana..
dari pemulung sampai pegawai kant0ran,dari anak muda sampai orang tua,dari penumpang sampai supir.Dan tentu saja tak lupa,aneka jenis m0bil angkutan umum dari angk0t 4-6 (istilah u/angk0t kecil) , mikrolet (angkutan seperti m0bil kijang), metromini (minibus), sampai bus-bus besar jurusan dalam dan luar k0ta.
Semua tumpah ruah di terminal.
Kita tidak akan membahas lebih jauh tentang kegiatan yg ada di terminal.
Tapi renungkan sobat, bahwa kehidupan dunia ini layaknya seperti terminal..
Kita faham bahwa terminal hanya tempat persinggahan sementara,kita hanya menjadikannya sebagai transit u/menuju ke suatu tempat yang menjadi tujuan kita..
Kita tinggal memilih angkutan mana yg sesuai dgn tujuan kita.
Jika kita salah pilih, maka bukan hanya kita tak sampai ke tujuan kita. Bisa jadi malah kita tersesat...
Lantas,apa bedanya dgn dunia yang kita tinggali ini?
Kita tahu dan faham bahwa suatu saat kita pasti akan meninggalkannya.
Meninggalkan segala yg telah kita usahakan selama usia kita.
Kecuali amal kebajikan yang akan mengiringi kita.
"Anak adam ketika dia mati,maka ada 3 amalan yg tidak terputus.Yaitu amal jariyah,ilmu yg b'manfaat&anak shalih yg mend0'akan orang tuanya.."
(al-hadits)
Jadi jelaslah sudah..
Investasi yg paling menguntungkan,dunia&akhirat.
Namun jarang diantara kita yang sadar akan ini semua..
Persiapan bekal u/kehidupan yg kekal..
Lantas,kendaraan/wasilah mana yang akan kita pilih untuk mencapai tujuan akhir kita,yaitu syurga?
Tentu saja,kita tidak boleh asal memilih..
Ketika di hadapan kita terdapat beberapa pilihan kendaraan yg kesemuanya mempunyai tujuan yg sama,kendaraan mana yg akan kita ikuti?
Kendaraan pertama, yg mengaku punya kecepatan luar biasa, dia menjamin bahwa mereka akan sampai ke tujuan dgn cepat dibandingkan dgn yg lain namun mengandung resik0 yg besar..karena tidak lewat jalur resmi dan tanpa dilengkapi surat2 kendaraan.
Kendaraan kedua, kendaraan yang mempunyai kecepatan yg memang agak lambat dari kendaraan pertama, karena memang fasilitas yg seadanya namun mereka juga menjamin bahwa penumpang akan sampai tujuan dengan cepat..
Meski mereka bahkan tidak mau sama sekali untuk mengurus surat2 resmi kendaraannya..
Kendaraan ketiga,ini yang sedang menjadi trend sekarang. Dengan kecepatan sedang,pelan namun pasti. Berusaha untuk mencapai tujuan tanpa meng0bral janji,bagi mereka 'amal,'amal dan 'amal.
Mereka selalu memakai jalur resmi dengan surat2 kendaraan yg lengkap. Pengendaranya juga secara k0ntinyu diberi pelatihan berkala.
Kendaraan yang keempat ini,memang paling lambat diantara ketiga jenis kendaraan sebelumnya.Namun mereka mempunyai tujuan yg sama.
Sekarang, semua pilihan diserahkan kepada pribadi masing2. Kendaraan mana yang c0c0k...?
Toh semua juga akan bermuara ke tujuan akhir yang sama...
Karena tanpa kendaraan2 itu,akan sulit jika kita berjalan sendiri-sendiri..
Bukankah serigala lebih suka kepada kambing yang melepaskan diri dari r0mb0ngan?
Wallahua'lam bish showab...
Mohon maaf jika ada yg tidak berkenan...
*di dalam perjalanan menuju ke Kart0sur0, malam Iedul Adha 1430 H*
Baca Selengkapnya...
Fajar Taddhiyah (Renungan Idul Adha)

Langit masih menyisakan sisa-sisa gelap tadi malam...
Meski di ufuk timur sudah terlihat mer0na, merah merekah...
Fajar akan segera menggantikan malam yg kelam...
Matahari khan bersinar kembali, menunaikan tugasnya untuk menerangi bumi sesuai dengan titah dari Sang Pencipta Alam Semesta...
Pagi ini mungkin sama agaknya dengan pagi2 sebelumnya...
Namun di pagi ini,di jum'at mubarak adalah pagi idul adha...
Di hari ini pulalah pada waktu itu,Nabi Ibrahim as dengan segala ketaatan&ketaqwaannya menjalankan perintah Allah dengan menyembelih putra tercintanya Ismail as..
Mari kita simak kembali perkataan Nabi Ibrahim as kepada putranya,Ismail as.
"Wahai putraku,sesungguhnya aku bermimpi mendapatkan perintah dari Allah untuk menyembelihmu. Lalu bagaimana pendapatmu?" kata Ibrahim.
Lantas,bgmana jawaban Ismail?
Ismail menjawab,"Duhai ayahanda tercinta,lakukan apa yg jadi perintah Allah.Niscaya kau akan dapati aku sebagai orang yg sabar&ikhlas."
Subhanallah, peng0rbanan&ketaqwaan yg sungguh luar biasa...
Lantas,taddhiyah apa yg hendak kita lakukan sekarang?
Perjuangan ini butuh peng0rbanan..
Yah...
Peng0rbanan terus menerus,berk0rban tiada henti.
Karena niscaya, perjuangan tanpa peng0rbanan..
Jiwa,raga,fikiran,waktu,maal...smuanya bisa jadi sarananya..
Jadi,tak ada lagi alasan yg menghalangi kita untuk berk0rban bukan?
Sm0ga kita bisa meneladani kisah Ibrahim & Ismail di atas..
~Selamat Idul Adha 1430 H~
Baca Selengkapnya...
Antibiotika hati

Dalam bidang kesehatan,kata antibi0tika mmg sdh tidak asing lagi..
Antibi0tika adl salah satu jenis obat kimia yg dibuat secara sintetis/buatan yg digunakan untuk membunuh bakteri penyebab penyakit..
Di sini saya tidak akan membahas tentang jenis-jenis antibi0tika,namun yg saya tekankan di sini adl penggunaan antibi0tika itu sendiri yg terkadang bagi sebagian orang menganggap bahwa antibi0tika adalah obat sakti,obat segala macam penyakit..
Padahal tidak semua penyakit membutuhkan antibi0tika,karena bukan termasuk penyakit yg disebabkan oleh bakteri..
Contohnya penyakit yang disebabkan oleh alergi,virus, maupun gangguan metabolisme..
Penyakit2 tsb tidak membutuhkan antibi0tika sebagai obatnya..
Namun terkadang orang lebih menyukai efek kerja obat yg cepat, sehingga lebih cepat sembuh.Karena ketidaktahuan mungkin, serta minimnya inf0rmasi mengenai antibi0tika..
Bahaya antibi0tika?
Ibarat kita ingin membunuh semut,tapi senjata yg kita gunakan adalah senjata yg c0c0k untuk membunuh gajah..
So pasti,penyakitnya langsung sembuh..
Tapi perlu diwaspadai juga, ketika memakai antibi0tika tsb tanpa aturan yg benar,misalnya harus dihabiskan. Ternyata tidak dihabiskan, maka bahaya kedua akan muncul, yaitu resistensi atau kekebalan bakteri penyebab penyakit terhadap antibi0tika. Ketika penyakit yg sama menjangkiti lagi,maka antibi0tika yg sama tidak akan mempan u/meng0bati penyakitnya..
Hati-hati jaga hati...
(Lho,apa hubungannya?)
Seperti halnya efek dari antibi0tika tadi,hati manusiapun terkadang bisa resisten/kebal terhadap cahaya petunjuk..
Hati ibarat kaca yang bening,ketika maksiat dilakukan maka akan timbul n0da dan lama kelamaan akan mjd buram..
Noda itu saya ibaratkan sebagai bakteri penyebab penyakit..
Ketika si pemilik hati enggan untuk membersihkan n0da tersebut dengan cara yg tepat maka akan muncul penyakit2 hati yg lainnya..
Seperti halnya meng0bati penyakit tanpa tahu penyebabnya,maka bisa jadi tidak menyembuhkan tetapi membuat penyakit baru..
Penyakit hati memang sulit u/dideteksi,berbeda dengan penyakit fisik yg mudah untuk diindera..
Hanya orang2 yg punya kepekaan hati yg akan mampu mendeteksi penyakit hati yg ada dalam dirinya..
Untuk kemudian dapat menemukan obat yg c0c0k..
Hati yang sakit, jika tdk segera diberikan peng0batan maka akan menjadi hati yg mati..
Na'udzubillah..
Hanya orang2 yg punya hati yg lembut,yg mampu menerima cahaya kebenaran itu..
Yaa Latief...
lembutkan hati kami...
Baca Selengkapnya...





